Perjalanan kali ini, saya tertuju pada keindahan salah satu wisata alam yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Tempat ini pernah menjadi ikon wisata di Sukabumi. Namun seiring waktu pamornya semakin meredup. Tempat ini dikenal dengan sebutan Curug Cibeureum, untuk memasuki kawasan ini bisa diakses melalui Pondok Halimun Selabintana, Kabupaten Sukabumi.
Jalan menuju Curug Cibereum berbatu begitu juga didominasi tanjakan yang curam. Jika kamu tertarik untuk berkunjung ke destinasi wisata ini, pakailah sepatu atau sandal khusus tracking agar perjalanan kamu tetap nyaman dan aman.
Curug Cibeureum berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Tinggi Curug Cibeureum diperkirakan mencapai 60 meter, dan menjadi air terjun tertinggi dari 16 air terjun yang ada di area konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Untuk bisa memasuki objek wisata Curug Cibeureum kita harus membayar tiket Simaksi dan asuransi di pintu masuk sebesar Rp 16.000 di hari biasa dan Rp 18.500 di Sa btu-Minggu. belum termasuk bayar parker ya.
Suasana sejuk seketika menembus kulit saat saya memasuki hutan menuju Curug Cibeureum. Tak ada bising bunyi knalpot, yang terdengar hanya suara dedaunan yang bergoyang dihembus angin, beriringan dengan gemericik air. Sesekali terdengar bunyi nyanyian serangga hutan bersahutan.
Keindahan dan kesejukan khas Gunung Gede Pangrango membuat siapapun yang datang dimanjakan dengan suasananya. Kini kian meredup setelah bermunculan tempat-tempat wisata lainnya. Belum lagi dilanda pandemi Covid-19. Membuatnya semakin sepi.
Sangat disayangkan, disepanjang perjalanan saya masih menemukan sampah yang berserakan. Keadaan shelter yang tak terurus semakin menimbulkan kesan bahwa lokasi wisata ini terbengkalai. Tak heran kalau Curug Cibereum semakin kehilangan pamornya.
Track yang berbatu dan menanjak hingga menguras tenaga terbayarkan tuntas sesampai saya di lokasi Curug Cibereum. Terlihat air terjun yang megah dan terasa segar saat mendekat karena cipratan air yang mengenai tubuh.
Saya mencoba memotret keindahan Curug ini sambil menikmati suasana yang sejuk. Karena lembabnya udara disini, tumbuh lumut dipermukaan batu. Perlu berhati-hati saat melangkah di kawasan ini apalagi saat mendekati bagian bawah curug, berbahaya jika terjatuh karena lokasi Curug Cibereum dipenuhi dengan bebatuan.
Samil menikmati asrinya alam saya berbincang dengan Mang Adang, seorang penjual kopi dan cilok. Mang Adang ternyata sudah berjualan di tempat itu sejak tahun 1991, sejak beliau berumur 19 tahun.
Ada yang saya teladani dari sosok Mang Adang. Selain berjualan, Ia juga ikut merawat alam. Sampah-sampah yang berserakan sampai puntung rokok dipungutinya lalu dikumpulkan dan dibuang di tempat pengumpulan sampah yang berada diluar Kawasan taman nasional.
Ada banyak pelajaran yang saya petik dari momen Ngaprak kali ini. Setangguh apapun seorang manusia, tak akan mampu bertahan tanpa ditopang oleh alam sekitarnya.
Disadari atau tidak, selama ini bukan kita yang merawat alam, tapi alam lah yang merawat kita. Dengan kita menjaga dan merawat alam sebetulnya kita sedang merawat diri kita sendiri. Sebaliknya, ketika kita merusak alam sejatinya kita sedang merusak diri kita sendiri.
Jika tertarik mengunjungi wisata alam ini sangat penting sekali untuk kamu turut menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Dengan membawa turun sampah menunjukan kamu peduli dan mencintai alam. Mulai dari kita dulu.
Perjalanan kali ini tentu berkesan bagi saya, kuharap untuk kalian juga. Sampai jumpa di kesempatan Ngaprak selanjutnya. Enjoy the journey












