SUKABUMI — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan setelah sejumlah kasus keracunan massal siswa terjadi di beberapa daerah di Jawa Barat, termasuk di Sukabumi. Anggota Komisi 3 DPRD Kota Sukabumi, Danny Ramdhani, menilai evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program ini sangat mendesak dilakukan.
“Kasus keracunan MBG bukan hanya sekali dua kali, tapi sudah terjadi di beberapa daerah seperti Garut, Tasikmalaya, Bandung Barat, bahkan di Sukabumi juga. Jangan sampai ada slogan MBG sukses justru membawa siswa ke rumah sakit,” kata Danny Ramdhani usai menggelar reses masa sidang I tahun 2025 di Babakan Jampang, Cikole, Kota Sukabumi, Selasa (23/9/2025) sore.
Menurutnya, salah satu titik rawan yang perlu diawasi adalah proses pengolahan makanan. Danny juga menanggapi wacana dari pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan yang tengah mempertimbangkan penyaluran dana MBG langsung ke orang tua siswa.
“Bagi saya itu bisa menjadi alternatif. Kalau MBG dikelola oleh yayasan atau dapur dan menimbulkan masalah, maka opsi memberikan uang langsung ke orang tua layak dicoba. Yang penting jangan sampai ada korban lagi, apalagi sampai ada siswa meninggal,” tegasnya.
Danny menyebut, fenomena keracunan akibat MBG yang marak belakangan ini menjadi perhatian serius DPRD. Ia memastikan Komisi 3 akan menindaklanjuti persoalan ini dengan langkah konkret.
“Setelah masa reses, kami rencanakan sidak terkait MBG ini. Kami juga akan meminta pendampingan dari Dinas Pendidikan agar pola-pola pelaksanaan MBG di Kota Sukabumi bisa lebih aman. Lebih baik sedia payung sebelum hujan,” ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya evaluasi dan inovasi skema penyaluran, program MBG tetap bisa berjalan sesuai tujuan awalnya, yakni meningkatkan gizi siswa, tanpa lagi dibayangi kasus keracunan massal.














